Artikel DPU
Refleksi
Perumpamaan Hati Manusia
SEMOGA Allah memberikan kita hati yang bersih, hati yang selamat. Sebab pertemuan dengan Allah bukan karena hebatnya amal, tapi perjumpaan dengan Allah hanya terjadi jika kita memiliki qalbun salim (hati yang selamat). Sebagaimana yang diterangkan Allah dalam al-Qur’an surat Asy-Syu’ara 87-89 bahwa akan ada suatu hari kelak, dimana harta dan anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.Hati yang bersih ibarat gelas yang berisi air bening, satu butir debu saja yang dimasukkan, akan nampak jelas. Artinya, semakin bening hati seseorang maka ia akan semakin peka dengan dosa dan kesalahan yang diperbuatnya. Boleh jadi suatu saat, ia berghibah atau melakukan maksiat, namun ia akan mudah sekali membersihkan, segera beristighfar, sadar akan dosa yang dilakukannya dan segera bertaubat.
Tetapi, jika gelas kotor, jangankan debu, sebuah paku payung atau kerikil besar pun tidak akan terlihat, karena tertutup oleh kotornya gelas itu. Itulah gambaran hati yang kotor, tidak terlihat lagi dosa-dosa yang diperbuat, sulit mendeteksi kesalahan, kejelekan diri. Ia hanya sibuk melihat kekurangan orang lain. Padahal bagaimana mungkin kita dapat memperbaiki orang lain sementara kita sendiri luput, tidak pernah berupaya memperbaiki diri, melihat kekurangan diri.
Kemudian, perumpamaan gelas bening yang berisi air bening dan disinari seberkas cahaya, maka yang akan terjadi adalah gelas itu akan menjadi terang, demikian pula dengan sudut yang lain, walaupun tidak disinari pasti ikut menjadi terang pula. Seperti itulah perumpamaan orang yang berhati bersih.
Akhlaknya, prilakunya, tutur katanya akan menerangi orang-orang disekelilingnya. Orang-orang yang seperti inilah yang insya Allah, akan menjadi penerang, penebar cahaya kebaikan bagi diri dan lingkungannya.
Kebalikannya, gelas yang kotor, lalu disenter, tetap saja gelas itu tidak akan terang, karena terhalang kekotoran yang menempel pada gelas itu. Begitupun dengan orang yang hatinya kotor, jangankan untuk menerangi kehidupan orang lain, demi dirinya sendiri pun sulit, semuanya gelap. Kalau pun ada cahaya kebenaran yang diberikan kepadanya, tidak akan sampai karena akan terhalang oleh kebusukan hatinya sendiri.
Demikianlah perumpamaan hati manusia, jika tidak terus menerus dibersihkan, hati yang semula bersih kian kotor, bebal hingga cahaya kebaikan sulit menembusnya. Namun, tentu tidak harus berkecil hati, dengan terus belajar, menambah ilmu, latihan (riyadhah) selalu, serta berupaya lebih peka terhadap dosa dan kesalahan, tentu Allah akan memudahkan kita dalam meraih qalbun salim, insya Allah. Ceramah Aa Gym, Al-Hikam di DT th 2003
Artikel Lainnya
Member/Donatur Login
Layanan Kami









