Artikel DPU
Refleksi
Mensiasati Kesia-siaan dalam Berkata
Kata-kata ibarat pedang. Siapa pun yang tidak bisa menjaganya, akan mendatangkan masalah. Persahabatan terhenti karena tidak pandai memilih kata, persaudaraan terputus karena salah dalam bertutur, bahkan tidak sedikit nyawa melayang akibat pedasnya kata-kata. Anehnya, walaupun sadar bahwa kita terjebak dalam kesia-siaan, tetap saja dinikmati. Tidak mau berhenti; membicarakan kejelekan orang lain, temen, saudara, bahkan orangtua sendiri.
Seringkali, kita pun turut rembug dalam perbincangan yang tidak ada kaitannya dengan diri kita. Hal-hal yang tidak perlu dibicarakan malah dilontarkan, hal-hal yang tidak perlu dikomentari malah dikomentari, dan terkadang kita suka ikut-ikutan memberikan penilaian. Padahal kita sendiri tidak tahu permasalahan yang sebenarnya. Lalu, bagaimana cara mensiasatinya agar lidah kita tetap terjaga, tidak tergelincir pada perkataan yang sia-sia?
Yang perlu kita sikapi pertama kali yaitu dengan bertanya pada diri. Apakah perkataan kita akan membawa manfaat atau mudharat? Jika tidak membawa manfaat lebih baik diam. Sebagaimana sabda Rasul “Hendaklah berkata-kata yang baik atau diam!†Memang tidak salah bertuturkata. Namun, daripada berkata tidak karuan, tidak mendatangkan maslahat lebih baik menahan diri. Karena kekuatan terbesar dari kata-kata itu ada pada kekuatan manfaat.
Tidaklah heran jika para ulama, orang-orang shaleh sangat hemat dengan kata-kata. Walaupun ilmunya luas, pengalamannya dalam, hapalan Quran dan Haditsnya banyak, pikirannya gemilang, begitu pandai menjaganya. Mereka meyakini kesia-siaan dalam berkata dapat mengundang setan dan niscaya akan menyeretnya ke dalam neraka saqar (Al-Mudatstsir[74]: 45).
Untuk itu saudaraku, marilah kita jaga lisan yang satu-satunya ini. Percayalah diam itu emas. Kenapa emas? Karena emas banyak disukai. Sekalipun disimpan dilumpur tetap saja emas, banyak orang menghargainya. Begituhalnya dengan orang yang terjaga dari kesia-siaan dalam berkata lebih kuat wibawanya daripada orang yang menghambur-hamburkan kata tetapi kosong makna. Wallahu a’lam bish Showab.
Artikel Lainnya
Member/Donatur Login
Layanan Kami









