
Ikhtiar adalah upaya maksimal manusia dalam mengoptimalkan segala potensi yang dimilikinya. Baik itu berupa potensi intenal berupa aqliyah (akal), ruhiyah (ruh/jiwa), jasmaniyah (fisik), fitrah (kecederungan bertauhid), maupun potensi eksternal yaitu huda (petunjuk), dien Islam (sistem hidup), dan alam sekitar.
Adapun tawakal biasanya diartikan sebagai penyerahan dan ketundukan sepenuh hati atas suatu hal hanya kepada Allah. Berpasrah diri atas kehendak (qudrah) dan kuasanya (iradah) Allah semata. Selalu berpikir postif (husnudzan) bahwa Allah tak pernah meninggalkan ataupun mendzalimi hamba-Nya.
Jika timbul pertanyaan, manakah yang didahulukan oleh seorang insan ketika ada masalah dalam hidupnya, apakah ikhtiar atau tawakal? Umumnya banyak orang menjawab ikhtiar terlebih dahulu baru tawakal. Tapi, keyakinan itu tak berlaku bagi seorang Ismoyo S. Soemarlan.
Pada satu kesempatan di hadapan para santri Pesantren Daarut Tauhiid, Senin (30 Mei 2011), Ismoyo menceritakan bagaimana keyakinan itu tertanam dalam dirinya.
Efisien dalam Hidup
Dibesarkan dalam keluarga berdarah bangsawan (Keraton Surakarta), Ismoyo terdidik untuk selalu berpikir dan bertindak efisien dalam hidupnya. Setiap aktivitas Ismoyo selalu dirancang dengan target dan tujuan yang jelas terukur. Begitu pula karirnya dalam dunia kepariwisataan. Pemilik villa yang ada di Bali ini selalu menekankan pentingnya perencanaan atau ikhtiar maksimal. Tak mengherankan, dunia kepariwisataan mengantarkannya pada kesuksesan materi.
Namun, ada satu peristiwa yang membuat Ismoyo berpikir ulang akan visi hidupnya tersebut. Tak selalu ikhtiar maksimal akan mendatangkan hasil seperti yang diharapkan. Sehebat apapun ikhtiar manusia, tapi jika Allah tak berkehendak, tak akan terjadi. Begitu juga sebaliknya, apabila Allah berkehendak, semustahil apapun sesuatu tersebut akan menjadi nyata.
Perempuan yang dikasihinya, sang istri tercinta, mengidap penyakit kronis mematikan. Berbagai ikhtiar telah dilakukan, tapi tak membawa hasil memuaskan. Sempat sembuh, namun penyakit itu kambuh kembali.
Pada momen inilah, Ismoyo mengambil sikap menyerahkan segala sesuatunya kepada kehendak Allah. Bukannya menyerah karena putus asa, tapi sebaliknya, tawakal didahulukan terlebih dahulu baru itu ikhtiar dilakukan. Ia berharap, ikhtiar yang dilakukan nantinya akan tertuntun oleh Allah.
Hasilnya, sungguh suatu mukjizat bagi dirinya. Istrinya tak hanya sembuh sempurna, tapi proses dalam kesembuhan itu pun melalui ‘jalan' yang tak disangka-sangka. Semuanya seakan mengalir begitu saja dan teramat dimudahkan.
Salah satu tamu yang menginap di villanya adalah seorang dokter handal dari luar negeri. Tanpa disengaja, Ismoyo berkesempatan mengenal tamu tersebut. Obrolan mengalir hingga soal sakit istrinya. Tamu itu pun menawarkan Ismoyo untuk memeriksakan kesehatan istrinya di rumah sakit yang dikelola oleh tamu tersebut. Gayung bersambut, Ismoyo mengikuti ajakan tamu tersebut. Alhamdulillah, sakit istrinya tak hanya sembuh total, tapi juga ia tak megeluarkan biaya sepeserpun. Biaya pengobatan dan biaya menginap selama di luar negeri, semuanya ditanggung oleh kenalannya tersebut. Subhanallah!
Jadi, masihkah kita meletakkan ikhtiar terlebih dahulu daripada tawakal kepada Allah? Jika berkaca pada kisah hidup Ismoyo, sepertinya paradigma tersebut haruslah segera kita ubah. (Suhendri Cahya Purnama)
Informasi Pribadi
Nama : Ismoyo S. Soemarlan
Alamat : Jalan Tangkuban Perahu Perum Grestenan No.4 Denpasar-Bali
Email : ismoyo@coconuthomes.com
Ttl : Bandung, 22 Januari 1965
Status : Menikah dengan 4 anak
Pengalaman Profesional
Februari 1990 - September 1993 : Accounting Manager Hotel Intan Bali Seminyak, Bali
September 1993 - Agustus 1994 : Manager Hotel Mutiara Cilacap - Jawa tengah
Agustus 1994 - Februari 2001 : General Manager Hotel Intan Legian Kuta - Legian, Bali
Maret 2001- Februari 2003 : Managing Director Wisata Sutra Tour & Travel Denpasar, Bali
Maret 2003 - Sekarang : General Manager Uma Sapna Seminyak, Bali
1994- Sekarang : Owner of Prasetia Collection
2010 - Sekarang : Director PT Uma Sejahtera Bersama
Aktivitas Sosial Kemasyarakatan
Chairman of Bali Villa Association: 2006 - Sekarang
Committee of IHRA (Indonesian Hotel and Restaurant Association): 2006 - Sekarang
Chairman of BAZDA Kota Denpasar: 2005 - Sekarang
Founder and Chairman "Forum Study Islam Bali": 2001 - Sekarang
Honourarry Police Polda Bali: 2008 - Sekarang
Team Consultatif Promotion of Bali Tourism Board: 2009 - Sekarang
Adviser of Forum Communication of Alumni ESQ Bali: 2009 - Sekarang









