WAWANCARA Erna Witoelar
Oleh : ASEP TEJA SETIA SOMANTRIWAWANCARA Erna Witoelar: INOVASI FILANTROPI TERHADAP PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Bagaimana perkembangan filantropi di dunia internasional?
Filantropi adalah kedermawanan, keikhlasan memberi yang sebetulnya ada di semua agama, di semua budaya. Tetapi di dalam dekade terakhir ini filantropi berkembang pesat yang kemudian diteliti justifikasi ilmiahnya, bahkan dijadikan mata pelajaran di fakultas-fakultas ekonomi --Baik dilihat keterkaitannya dengan pertumbuhan ekonomi, keadilan sosial, maupun aspek lain—yang pada akhirnya berkembang menjadi suatu sistem yang dibakukan.
Sekarang ada yang dikenal dengan corporate social responsibility. Itu adalah bentuk dari filantropi. Sebagai contoh ada filantropi antarnegara. Di mana negara maju yang sudah mapan ketika melihat ketimpangan di negara berkembang, ikut menyumbang. Sebagai contoh adanya organisasi Ford Fondation, Asia Fondation, dsb.
Dari sana berkembang mekanisme filantropi yang profesional. Jadi, bukan lagi dikelola oleh relawan-relawan tapi oleh orang-orang profesional. Mulai dari pengelolaan, pertanggungjawaban, publikasi maupun evaluasi semua dilakukan secara profesional. Sehingga filantropi bukan lagi sekedar menyalurkan keinginan untuk memberi tapi sudah menjadi suatu gerakan yang besar. Juga orang (red. Donatur) tidak sekedar memberi tapi tahu manfaat dari pemberiannya.
Bagaimana dengan perkembangan filantropi di Indonesia?
Di indonesia sendiri, sejak 2001 kita mulai memprakarsai penguatan filantropi dari organisasi saya yaitu Yayasan Sehati (Yayasan keanekaragaman hayati). Saat itu belum banyak, baru belasan seperti Dompet Dhuafa, Yayasan Mitra Mandiri, juga beberapa perusahaan yang membentuk yayasan sendiri. Tidak sedikit pula keluarga-keluarga yang kaya mendirikan hal yang sama atas nama keluarganya sendiri seperti Yayasan Bakri, Yayasan Martatilaar, Yayasan Sukanto Tanoto, Yayasan Eka Cipta. Mereka semua orang-orang kaya yang mau menyalurkan filantropi-nya melalui yayasan pribadi. Penyalurannya beda-beda. Ada untuk beasiswa sekolah, untuk kesehatan ada juga untuk pemberdayaan perempuan.
Seiring banyaknya yayasan atau organisasi filantrofi, maka diadakan seminar besar yang dapat mewadahi semua filantropi maka pada tahun 2007 dibentuk Perhimpunan Filantropi Indonesia. Mereka terhimpun ke dalam tiga sisi yaitu sisi pemberi, sisi perantara (pengelola), dan sisi penerima. Kategori pemberi ada yang perorangan dan ada juga perusahaan. Sisi perantara adalah pengelola dana-dana secara profesional. Dan, penerima adalah kelompok-kelompok masyarakat. Tiga-tiganya perlu menerapkan prinsip-prinsip yang baik seperti prinsip akuntabel, transparan, tanggung jawab, jelas penggunaanya dsb. Ini sudah berkembang di daerah-daerah di antaranya di Daarut Tauhiid. Mulai dikelola dana wakaf, zakat dari masyarakat yang kemudian dikembalikan lagi ke masyarakat berupa pemberdayaan. Itu salah satu contoh organisasi filantropi yang sehat.
Apa pentingnya kita menyalurkan filantropi?
Ada beberapa hal, pertama, melihat ketimpangan. Di saat kita memiliki dan orang lain tidak memiliki , kita berbagi. Formasi itu makin jelas. Dan, orang melihat masalah-masalah kemiskinan, kriminalitas, konflik itu disebabkan karena adanya ketimpangan antara yang berduit dengan yang tak berduit.
Kedua, banyak orang yang mampu berbagi dan orang-orang itu mulai mencari organsisasi atau yayasan untuk menyalurkan filantropi atau kedermawanannya. Kemudian ada ada hal-hal seperti dana infak, zakat yang dulu dilakukan oleh kalangan atas kini dilakukan oleh kalangan menengah. Jadi untuk berbagi tidak perlu kaya dulu. Untuk berzakat, setiap tahun jumlahnya besar. Sekarang masyarakat punya pilihan untuk menitipkan dananya.
Nah, untuk bisa bersaing itu kan organisasi-organisasi filantropi dituntut profesional. Awalnya sedikit yang tertarik, namun karena pengelolaannya profesional bisa menarik lebih banyak lagi donatur. Yang awalnya bersifat bagi-bagi menjadi pemberdayaan atau yang awalnya jangka pendek jadi jangka panjang. Dengan demikian orang yang memberi tambah senang karena yang diberinya itu bisa keluar dari kemiskinan. Ini yang menyebabkan ada sisi pemberinya, sisi pengelolanya, itu tumbuh dan berkembang.
Bagaimana kebutuhan masyarakat terhadap kuatnya realisasi filantropi?
Saya mensupport terus media massa untuk menampilkan apa adanya mengenai ketimpangan-ketimpangan yang ada dimasyarakat. Mengenai ketidakadilan masyarakat, ketidakadilan sosial. Orang perlu tahu. Meskipun itu tugas pemerintah tapi pada akhirnya tidak ada yang ditangani secara sendiri baik itu masalah kemiskinan, pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup. Itu dilakukan kelompok-kelompok masyarakat sendiri. Saya melihat solidaritas masyarakat dapat memperkuat bangsa. Yang salah ketika kita melihat kemiskinan, kita memperlakukannya dengan sekedar memberi. Makanya saya tidak begitu suka dengan istilah fakir. Perlakuan orang terhadap fakir itu seolah-olah minta-minta aja . Dan mereka pun terbiasa hidup hanya menengadah. Itu yang salah. Ketika melihat kemiskinan kita tidak hanya sekedar memberi tapi pacu agar bisa berdaya --Seperti program misykat DPU DT. Atau contoh-contoh pemberdayaan Dompet Dhuafa. Mereka melakukan pemberdayaan dan mereka mempertanggungjawabkannya. Itu membuat kredibilitas Islam meningkat. Terlihat solidaritasnya.
Dengan keterlibatan ibu di MDG’S’S. Bisa dijelaskan?
MDG’S’S atau Milenium Development Goal adalah kesepakatan negara-negara di dunia untuk suatu target tertentu ‘mengeroyok’ masalah kemiskinan. Kemiskinan tidak dilihat secara tersendiri tapi dalam kaitannya dengan pendidikan yang terjangkau. Kesehatan dasar yang terjangkau, lingkungan yang dipulihkan, kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, air bersih dan sanitasi, HIV AIDS, dsb. Ini semua target khusus untuk mengurangi kemiskinan secara global dan ada tujuan di mana dunia sepakat untuk saling membantu. Negara maju membantu negara berkembang dan negara berkembang serius menerapkan programnya untuk hal ini. Ini yang disebut MDG’S. Dalam hal ini filantropi sangat erat terkait dengan MDG’S jadi orang melakukan filantropi supaya MDG’S tercapai. Itu bisa.
Bagaimana nilai-nilai universal bersinggungan dengan nilai-nilai religius dalam hal ini filantropi?
MDG’S sudah banyak di implementasikan maupun dibahas oleh berbagai agama yang melihat adanya kesamaan untuk menghilangkan kesenjangan, kesamaan menghilangkan ketidakadilan sosial, kesamaan untuk memperbaiki lingkungan hidup. Jadi, kelompok-kelompok agama di dunia banyak yang mendukung pencapaian MGD’S kemudian mendorong umatnya untuk melakukan hal tersebut.
Apakah MDG’S sebuah program?
MDG’S adalah goal atau tujuan atas kesepakatan negara-negara untuk menghapuskan kemiskinan dengan jalan menumbuhkan harga diri. Jika itu dilakukan maka MDG’S tercapai.
Program DPU difokuskan untuk pemberdayaan masyarakat, Apakah itu sejalan dengan harapan MDG’S?
Itu bagus sekali. Itu sangat sejalan dengan pencapaian MDG’S. Jadi MDG’S hanya bisa tercapai dengan pemberdayaan pada masyarakat.
Salah satu program yang DPU gulirkan sekarang ada pelatihan cleaning service. Sebulan mereka dilatih untuk kemudian disalurkan ke perusahaan-perusahaan yang membutuhkan. Menurut ibu?
Itu sudah dijalur yang benar. DPU Daarut Tauhiid sudah melakukan pemberdayaan. Sehingga masyarakat miskin tidak sekadar diberi uang tapi diberi kemampuan untuk mengeluarkan dirinya dari kemiskinan. Jadi sebenarnya DPU Daarut Tauhiid sudah sangat valid untuk didukung baik dengan sumbangan perorangan, perusahaan berkala, maupun sekali-sekali. Itu sudah menjadi wadah untuk menyalurkan filantropi. Dan saya juga melihat inovasi-inovasi DPU Daarut Tauhiid dalam bentuk sumbangan wakaf. Itu sangat kreatif atau menggalang dana melalui SMS. Jadi menurut saya DPU Daarut Tauhiid sudah cukup kreatif, inovatif dalam menggalang dana maupun dalam menyalurkannya.
Kalau sekarang mengalami penurunan bukan karena desain filantropi nya yang tidak benar atau masyarakat yang kurang berminat tapi hal-hal lain di luar itu.
Pesan ibu untuk pembaca?
Pembaca Swadaya hendaknya tetap mempercayakan kedermawanannya kepada DPU Daarut Tauhiid yang memang secara profesional menyalurkannya. Saya rasa tidak ada yang berubah dari kredibilitas DPU Daarut Tauhiid sebagai pengelola pemberdayaan masyarakat. Semoga tetap tidak berubah dukungan dan kepercayaan tersebut.
BIODATA: Nama : Erna Witoelar
Kelahiran : Sengkang (Sulsel) 6 Februari 1947
Nama Suami : Rachmat Witoelar
Anak : Aria Witoelar Surya Witoelar Wirya Witoelar
Pendidikan : S-1 Teknologi Kimia ITB S-2 Ilmu Lingkungan UI
Aktivitas: Duta Besar Khusus PBB Untuk Tujuan Pembangunan Milenium (MDG’S di Asia Pasifik)
|