Longsor Karanganyar
Oleh : REDAKSI PIKIRAN RAKYAT BandungPULUHAN nyawa terenggut lagi. Kabar duka yang kali ini datang dari Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, seakan mempertebal daftar kejadian hilangnya jiwa karena bencana di negeri ini. Rentetan peristiwa silih berganti, di darat, air, dan udara. Semua seolah berkejaran antara upaya antisipasi lewat kewaspadaan dengan kenyataan yang terjadi. Alam seakan mampu berbuat paling depan, sementara manusia tak bisa memprediksinya. Peristiwa di Karanganyar seperti sebuah bukti bahwa bencana alam bisa terjadi ketika pikiran kita tidak sedang berada pada titik di mana peristiwa itu berlangsung. Nyaris hari-hari kemarin, kewaspadaan terfokus pada wilayah perairan di bentang lautan. Para petugas prakiraan cuaca gencar menginformasikan agar hati-hati berada di perairan. Fenomena alam yang bakal muncul, yakni gelombang pasang tinggi akan mengempas daratan. Curah hujan yang tinggi akan mengakibatkan banjir luar biasa. Menjelang kejadian longsor, para petinggi termasuk presiden sedang memperingati kejadian tiga tahun lalu, yakni empasan gelombang tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Presiden bersama petinggi lain memperingatinya di Pantai Lapangan Solago, Banten dan sekaligus fokus mewaspadai datangnya bencana tersebut. Di kawasan itu pun dipasangi alat pendeteksi dini tsunami serta dilakukan latihan penanganan pascabencana alam tersebut dengan melibatkan masyarakat. Akan tetapi, di saat itu pula kabar duka dari Karanganyar tiba. Menyikapi kejadian demi kejadian bencana yang menimpa, rasanya kita selalu berada pada kondisi serbasalah. Terlebih dengan serba terbatasnya ketersediaan infrasturuktur, teknologi, dan dana. Kita sulit menentukan mana yang lebih dulu harus menjadi prioritas untuk ditangani. Sementara kali ini hampir tidak ada tempat yang aman dari hantaman alam. Orang pantai rawan disapu gelombang, orang pedataran selalu dihantui banjir, orang nun jauh di pegunungan pun dihantui longsor. Lalu, haruskah kita pasrah dan tidak perlu berbuat apa-apa terhadap kemungkinan yang akan terjadi? Sebagai makhluk yang diberi kelebihan berupa akal dan rasa oleh Tuhan, tentu kita tak boleh berhenti di titik itu. Upaya menghindari dan memperkecil wilayah-wilayah atau kawasan rawan bencana tetap harus dilakukan. Tidak ada kata menyerah. Hanya persoalannya, perlu kesamaan pandangan dan kerja sama. Khususnya dalam memperbaiki kondisi alam, tidak bisa semata-mata diserahkan kepada sebagian orang, meski pemerintah harus paling depan bertanggung jawab. Kalaupun kita tidak menjadi bagian dari yang memperbaikinya, minimal ikut memeliharanya. Satu hal yang tidak bosan-bosan ingin kita ingatkan kepada siapa pun, kejadian longsor dan banjir selalu ada kedekatan dengan keterlibatan manusia dalam bentuk positif dan negatif. Kita yakini alam yang utuh dan terjaga akan kecil kemungkinannya membuahkan bencana. Inilah keterlibatan manusia secara positif. Sebaliknya pada alam yang rusak, datangnya bencana tinggal menunggu waktu. Itulah yang negatif. Sekarang, pilihannya terserah kita mau yang mana, agar yang menimpa saudara kita di Karanganyar tidak lagi terjadi. http://pikiran-rakyat.com
|