Bea Mahakarya DPU DT: ”Memberi Kail, bukan Memberi Ikan”
Oleh : NURMALASARI BAYU & WAWAN KURNIAWAN
”Karena ini adalah amanah umat, kita juga ingin memberikan yang terbaik kepada umat. Dengan menyalurkan dana yang sudah dititipkan sehingga sampai kepada yang benar-benar berhak terutama kepada mustahik.Mudah-mudahan lembaga zakat ini tidak hanya memberi ikan tapi memberi kail juga,” ungkap panitia Bea Mahakarya, Masitoh.
Akhwat yang biasa dipanggil Teh Iit ini begitu bersemangat membimbing para calon penerima Bea Mahakarya untuk menyelesaikan seleksi tahap dua di Daarul Hajj Daarut Tauhid Bandung, Kamis (14/02).
Senyum khas dan keramahannya menyambut calon peserta penerima Bea Mahakarya mengurangi sedikit ketegangan di wajah-wajah yang penuh harap.
Beruntung tim Media Lembaga Amil Zakat Nasional Dompet Peduli Ummat Daarut Tauhiid (DPU DT) berkesempatan berbincang dengan Teh Iit. Disela-sela kesibukannya mengawasi puluhan mahasiswa yang siap dengan rangkaian tes calon penerima Bea Mahakarya DPU DT, Iit menjelaskan bahwa Bea Mahakarya merupakan salah satu program Pendidikan DPU DT.
Menurutnya, tahun 2007 DPU DT bekerjasama dengan Departemen Dakwah dan Sosial Yayasan Daarut Tauhiid Bandung meluncurkan Program Beasiswa Prestatif yang diperuntukkan bagi siswa berprestasi dari jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Perguruan Tinggi (PT).
Kemudian, pada 1-31 Januari 2008, DPU DT kembali membuka pendaftaran calon penerima Bea Mahakarya. Program ini sedikit berbeda dengan program sebelumnya. Program Bea Mahakarya tahun 2008 ini hanya diperuntukkan bagi mahasiswa tingkat 3 dan 4 jenjang PT.
Tujuan Bea Mahakarya
”Beasiswa Prestatif lebih mengedepankan prestasi. Sedangkan Bea Mahakarya memiliki tujuan yang berbeda. Ada empat tujuan pokok dalam Bea Mahakarya ini. Pertama, membantu meringankan biaya pendidikan mahasiswa. Kedua, menumbuhkan SDM profesional di bidang sosial kemasyarakatan. Jangka panjangnya, kita ingin mencetak generasi-generasi unggul yang professional. Ketiga, ingin menumbuhkan sumber daya manusia (SDM) di bidang zakat agar lebih tahu apa itu zakat serta bagaimana cara mengelola zakat. Keempat, meningkatkan keshalehan sosial. Pada program ini nantinya mereka juga akan diarahkan bagaimana cara melayani muzaki. Karena dananya dari umat, berarti mereka juga harus memberikan sesuatu kepada umat,” ungkap Teh Iit panjang lebar.
Dari ratusan mahasiswa yang mendaftar sebagai calon penerima Bea Mahakarya, hanya 50 orang saja yang nantinya berhak menjadi penerima Bea Mahakarya. Adapun penerimaannya berdasarkan penilaian pada 3 tahapan seleksi yang meliputi seleksi administrasi, tes tertulis dan wawancara, serta survei. 50 orang peserta yang dinyatakan lulus akan mendapatkan beasiswa serta pembinaan selama 10 bulan. Materi yang akan diberikan selama pembinaan berkenaan dengan zakat, leadership dan entrepreneurship.
Selama pelatihan, peserta akan magang di divisi-divisi yang ada di DT. Hal ini dimaksudkan agar peserta mampu mengaplikasikan materi yang sudah diterima selama pembinaan.sebagai bekal nanatinya ketika sudah lulus menjadi peserta program Bea Mahakarya. ”Karena ini adalah amanah umat, kita juga ingin memberikan yang terbaik kepada ummat. Dengan menyalurkan dana yang sudah dititipkan sehingga sampai kepada yang benar-benar berhak. Terutama kepada mustahik. Mudah-mudahan lembaga zakat ini tidak hanya memberi ikan tapi memberi kail juga. Semoga dengan mendapatkan beasiswa ini, peserta lebih terbantu. Bisa meningkatkan keilmuannya, tidak hanya tentang ilmu agama tapi realitas yang ada di masyarakat serta menjadi SDM-SDM profesional di bidangnya,” tutur Iit mengakhiri.
NURMALASARI BAYU & WAWAN KURNIAWAN, Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung
|