Ayat-ayat Cinta: Diangkat dari Sebuah Novel Pembangun Jiwa
Oleh : WAWAN KURNIAWAN
TIDAK banyak film-film religi yang pernah dibuat sineas Indonesia. Terakhir, film Rindu Kami Padamu karya Garin Nugroho dirilis dua tahun yang lalu bertepatan dengan bulan rhamadan saat itu. Namun baru-baru ini masyarakat Indonesia dikejutkan dengan sebuah film yang diangkat dari sebuah novel karya Habiburrahman El Shirazy. Film berjudul sama dengan novelnya ini telah disebut sebagai film yang paling ditunggu para pecinta film Indonesia. Tidak hanya bagi yang telah membaca novelnya, namun bagi kalangan muslim yang sempat melihat publikasinya di berbagai media. Ayat-ayat Cinta merupakan novel fenomenal produksi MD Pictures yang akan dirilis serentak pada tanggal 28 Februari 2008. Hanung Bramantyo, sutradara yang pernah menyabet penghargaan Festival Film Indonesia 2007 dalam film Get Maried sebagai sutradara terbaik ini dipercaya menyutradarai film tersebut.
Pengambilan gambar yang rencananya akan dilakukan di Mesir ini mengalami hambatan ketika pada april tahun lalu, pihak produksi belum mendapatkan izin dari Pemerintah Mesir. Untuk menyiasatinya, lokasi syuting dilakukan di India dengan set yang disesuaikan dengan latar kota Cairo seperti yang tergambar jelas dalam novelnya. Film ekranisasi atau film yang diproduksi dari novel aslinya ini berkisah tentang kehidupan seorang mahasiswa Indonesia bernama Fahri bin Abdullah Shiddiq (Fedi Nuril) yang sedang menggapai gelar masternya di Universitas Al-Azhar Mesir. Ia merupakan seorang pemuda idealis yang berkutat dengan berbagai macam target dan kesederhanaan hidup. Pekerjaan sambilan yang dilakukannya untuk menopang hidupnya sebagai mahasiswa rantau adalah dengan menjadi penerjemah buku-buku agama.
Semua target direncanakan Fahri dengan matang, kecuali soal menikah. Kepribadiannya yang taat beribadah serta sopan dan baik budi, membuat ia dikelilingi perempuan-perempuan yang sangat mencintainya. Mereka adalah Maria Girgis (Carissa Putri), seorang tetangga kos Fahri yang beragama kristen koptik, Nurul (Melanie Putri), seorang mahasiswi seperantauan dengan Fahri, Noura (Sazkia Mecca), seorang gadis yang pernah diselamatkan Fahri dalam satu marabahaya, dan Aisha (Rianti Cartwright), seorang gadis mesir yang cerdas dan bercadar. Fahri kemudian dihadapkan pada pilihan-pilihan yang sulit hingga akhirnya ia bersatu dengan perempuan yang dicintainya dengan cara-cara yang islami.
Jauh sebelum film ini dibuat, novel yang diterbitkan pertama kali pada tahun 2004 melalui penerbit Basmala dan Republika ini telah terjual jutaan kopi. Novel berisi 418 halaman ini sukses menjadi salah satu novel fiksi best seller di Indonesia yang dicetak sampai dengan 160 ribu eksemplar hanya dalam jangka waktu tiga tahun. Kesuksesan novel itu membuat Manooj Punjabi (MD Pictures) tertarik untuk memfilmkannya.
Tentu banyak nilai yang dapat dipetik dalam novel yang disebut sebagai pembangun jiwa ini. Karena memang tidak berlebihan, Ayat-ayat Cinta merupakan salah satu karya inspiratif yang menambah keimanan seorang muslim di tengah sumber bacaan fiksi yang jauh dari tema religi. Proses diadaptasinya novel tersebut ke dalam media film merupakan cara yang ampuh untuk membidik kalangan muda. Di tengah film-film horor dan drama percintaan yang membawa dampak buruk dengan secara tidak langsung mengajarkan seseorang untuk tidak ta’aruf, nilai-nilai islami yang terkandung dalam Ayat-ayat Cinta dapat menggugah hati generasi muda Indonesia saat ini. Terlebih bagi kalangan muslim yang haus akan hiburan penuh dakwah sebagai rekreasi hati yang bernilai.
WAWAN KURNIAWAN, Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung
|