Dari Musafir hingga Pekerja Sosial, Banjiri Bansos DPU DT
Oleh : Suhendri Cahya Purnama WAKTU baru saja menunjukkan pukul sepuluh siang, namun kantor Bantuan Sosial (Bansos) Lembaga Amil Zakat Nasional Dompet Peduli Ummat Daarut Tauhiid (DPU DT) Bandung, Senin (17/3), ramai dipenuhi orang-orang. Sebagian besar dari mereka terdiri atas para mustahik atau orang-orang dhuafa yang bermaksud untuk memperoleh bantuan uang tunai.
“Kita baru saja buka satu jam yang lalu, tapi sudah ada 13 orang yang datang ke sini,” kata Satim, staf Bansos DPU DT saat diminta keterangan disela-sela kesibukannya.
Menurut Satim, hari Senin dan Selasa, jumlah orang-orang yang datang ke Bansos DPU DT dapat mencapai 20 sampai 30 orang. “Mungkin karena hari Ahad libur, jadi numpuk pada Senin atau Selasa,” jelasnya.
Mereka yang datang ke Bansos DPU DT, umumnya para musafir yang kehabisan bekal atau mendapat musibah kehilangan uang sehingga tidak bisa melanjutkan perjalanan.
Seperti yang dialami Maman Supriatman (24 tahun), asal dari Purwakarta. “Saya kan tujuan ke sini cari kerja, tapi dapat musibah kehilangan dompet. Kemaren saya bawa uang 60 ribu, yang saya pinjam dari tetangga,” katanya dengan nada sedih.
Sebelumnya, Maman bekerja sebagai karyawan kontrak di Purwakarta. Ia bermaksud untuk mencari kerja di Bandung karena masa kerjanya telah berakhir.
“Di Purwakarta, cari kerja susah, makanya saya coba datang ke sini,” ungkap bapak satu orang anak yang baru berusia satu bulan ini.
Namun, nasib mujur ternyata tidak memihak padanya. Ketika di angkot, Maman harus merelakan uangnya berpindah ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab.
“Untung saja KTP saya tidak ikut terambil,” kata Maman yang bermaksud langsung segera ke Purwakarta, Jawa Barat. Nasib serupa dialami Antonius Sunarto (49 tahun), asal dari dari Pekan Baru, Riau. Mualaf yang baru dua tahun memeluk Islam ini bermaksud mengunjungi saudaranya di Bandung. Akan tetapi, ketika sampai ke Bandung, ternyata saudaranya telah pindah ke kota lain.
Karena kehabisan bekal, dan tidak tahu harus ke mana, Antonius akhirnya memutuskan pergi ke Bansos DPU DT.
“Insya Allah, uang ini akan saya gunakan untuk ongkos ke Lampung, katanya saudara saya sekarang ada di sana,” tutur Antonius yang sekarang bernama Muhammad Siddiq sebagai nama hijrahnya.
Ternyata, tidak hanya para mustahik atau orang-orang yang mendapat musibah yang datang ke Bansos DPU DT. Johara Adi seorang pekerja sosial dari Kabupaten Bandung, tampak sibuk berbincang-bincang dengan staf Bansos DPU DT.
Johara yang saat dimintai keterangan mengatakan, ia bermaksud untuk menawarkan kerjasama antara Dinas Sosial Kabupaten Bandung dengan Bansos DPU DT.
“Kita kerja sama dengan DPU DT sudah lama, biasanya berupa program kesehatan, sunatan massal, malah rencana ke depan, kita mau mengadakan nikahan massal bagi yang belum mempunyai surat nikah,” ujarnya.
Koordinator pekerja sosial di Kecamatan Ketapang, Kabupaten Bandung ini mengaku, selama bekerja sebagai pekerja sosial, ia tidak memperoleh honor.
“Hitung-hitungannya, nanti saja di akhirat kelak,” ungkap Johara sambil tersenyum.
|