Wawancara bersama Pendiri DT Jakarta dr.H.Palgunadi T. Setyawan
Oleh : Redaksi
Dalam rangakaian tahadus binimah Milad ke - 9 Daarut Tauhiid (DT) Jakarta, Ustadz Ahmad Rosyidin dari Team Media Center DT Jakarta melakukan wawancara khusus dengan dr.H.Palgunadi T. Setyawan.
Beliau yang akrab disapa Pak Pal, merupakan salah satu penggagas sekaligus pendiri serta Ketua Yayasan Daarut Tauhiid Jakarta yang pertama. Pak Pal adalah rujukan utama pengamalan nilai-nilai Manajemen Qolbu (MQ), karena jika kita akan mencari suri tauladan atas rumus atau budaya Daarut Tauhiid yang menjadi tema-tema ceramah Aa Gym, beliaulah perwujudan sosoknya. Berikut ini petikan wawancaranya:
Pak Pal, bulan Juni tahun ini Daarut Tauhiid Jakarta berusia 9 tahun. Bagaimana kesan Bapak?
Subhanallah, tidak terasa ya. Itulah bukti bahwa segala hal kalau dikerjakan dengan nyaman, menikmati akan selalu terasa seolah-olah baru sebentar, demikian juga khidmat Daarut Tauhiid Jakarta. Terasa baru sebentar padahal sudah 9 tahun. Usia setara kita lulus SD kemudian melanjutkan ke SMP dan lulus. Sehingga kata kunci menikmati ini menjadi titik temu dari rangkain omongan saya tadi.
Bapak, kalau boleh diceritakan apa sih yang menginspirasi sehingga Bapak bersama beberapa orang 9 tahun lalu tergerak untuk merintis dan mewujudkan aktivitas dt jakarta ?
Inspirasinya tentunya dari DT Bandung, khususnya pengajian Aa malam Jum’at maupun hari Ahad. Saya merasakan manfaat yang Alhamdulillah membuat saya lebih mensyukuri nikmat Allah sehingga saya berfikir mengapa hal baik ini tidak kita bagi atau syiarkan di Jakarta.
Pada milad ke-9 ini Daarut Tauhiid Jakarta mengangkat tema menjadi dewasa adalah pilihan, bagaimana pesan bapak tentang kedewasaan ini?
Organisasi yang dewasa hanya bisa terwujud jika pengurus dan anggotanya dewasa. Dewasa adalah kemampuan untuk dinamis menyesuaikan diri dengan keadaan hari ini. Dewasa artinya terus berbuat mengaktualisasikan diri kita sesuai dengan masa dimana kita sedang berada. Dewasa adalah khoirum min amsihi, kita lebih baik dari sebelumnya selalu.
Apa yang harus kita lakukan sebagai wujud konkrit?
Tidak ada pilihan kalau kita ingin menjadi dewasa adalah kita harus senantiasa mensyukuri keadaan. Bagaimana wujud syukur itu, ya dengan mengerjakan sesuatu serba terbaik. Karena Baginda Nabi tidak pernah mencontohkan amal baik. Namun baginda memberi contoh semuanya terbaik. Excelent!
Bapak, seringkali aktualisasi diri terbaik ini sering terbentur dengan rezeki yang belum melimpah, keuangan seret dan aneka hambatan lainya. Bagaimana ini menurut Bapak?
Rezeki kita itu berbanding lurus dengan akhlak kita. Ahlak kita cerminan perilaku kita, perilaku kita refleksi dari fikiran kita, fikiran kita adalah rekaman dari kebiasaan kita. Maka Daarut Tauhiid punya tujuh kebiasaan yang terangkum dalam 7T. Maka istiqomahlah dalam membiasakan 7T ini maka insya Allah ahlak kita akan baik. Jika akhlak kita baik, maka pada saat yang sama rezeki akan melimpah (Pak Pal mengutip Surat At Thalaq 2-3).
Bapak tadi menyebut 7T boleh kah bapak jelaskan kembali kembali kepada kami?
Tenang, terencana, terampil, tertib, tekun, tegar dan tawadhu (7T). Tawadhu adalah kata kunci kedewasaan. Sukses ya selamat berjuang untuk sahabat-sahabat seperjuangan.
|